PENIADAAN objek-objek material. Itulah idenitifikasi pertama yang segera saya tangkap dari pertunjukan pantomim. Kita tidak akan mendengar kata-kata dan juga jarang mendapati aneka properti di atas panggung pantomim. Apa yang sifatnya material, dimaksimalkan melalui gerakan, gestur, dan ekspresi.
Gerakan, gestur, dan ekspresi pantomimer beroperasi sebagai representasi atas aktivitas tertentu. Objek-objek dan kata-kata muncul secara abstrak melalui peristiwa. Pantomimer tidak memerlukan sebuah pintu untuk melakukan adegan membuka atau menutup pintu dan ia juga bisa melakukan adegan sedih tanpa harus mengatakan bahwa dirinya sedang dipeluk nestapa.
Namun, ada satu hal yang selalu melekat padanya, yakni wajah yang dilabur warna putih. Wajah penanda identitas pertama seseorang. Kita mengenal orang lain dengan mengidentifikasi wajah terlebih dahulu, baru lain-lainnya.
Warna putih pada wajah pantomimer mengandaikan bahwa wajah itu seolah hendak dibuat netral. Namun, apa yang disebut "netral" tak mungkin terjadi. Atau, itu kualitas ideal yang terlampau jauh dan naif. Wajah tak dapat menyembunyikan ekspresi sedih, bahagia, risau, cemas, bosan, dan sebagainya, meski telah dilabur warna putih. Saya membayangkan bahwa wajah putih itu seperti white cube galeri-galeri seni rupa, sementara ekspresi adalah aneka lukisan yang ditempel di sana. Sebagaimana pertunjukan pantomim yang pernah saya tonton, Andy Eswe tak ingin menghindar dari identifikasi tersebut. Ia melakukannya, memutihkan wajahnya.
Turunan paling ekstrem dan stereotip dari wajah putih itu adalah figur badut. Kita mengenal badut bukan cuma kelucuannya yang membuat orang-orang tertawa girang tak kepalang, tetapi juga isu yang menempatkan mereka di mata rantai kelas sosial lapisan bawah. Tertawa bukan cuma datang dari ekspresi spontan, melainkan juga bermakna politis: siapa menertawakan siapa. Pertunjukan Andy menerbitkan tawa, tapi juga meletupkan nyeri.
Saya menontonnya pada malam 12 Juni 2021 di Galeri Lorong, Yogyakarta. Pentas kelompok Bengkel Mime Theatre itu bertajuk Opinion, terdiri dari lima nomor pendek yang dimainkan secara bergantian oleh Andy Eswe dan Ficky Tri Sanjaya.
Menandai
Repertoar Pertemuan Seusai Hujan membuka pertunjukan. Karya pertama ini seolah hendak menegaskan bahwa mereka adalah kelompok yang berdiri di atas medium atau genre pantomim. Andy memainkan repertoarnya selayaknya pertunjukan pantomim: bergerak tanpa satu pun properti yang menyertainya.
Itu pertunjukan yang melankolik dan sekaligus platonik. Perpisahan dan pertemuan menjadi daftar gestur yang dioperasikan tubuhnya. Ekspresi kesedihan dan kebahagiaan datang silih berganti. Wajah putihnya tak dapat menyembunyikan dua hal itu.
Meskipun terdapat gestur kebahagiaan, tapi resonansi utama pertunjukan Andy adalah kesedihan. Saya ingin menyebutnya sebagai tragedi. Namun, tragedi pada Andy tidak melibatkan darah dan nestapa yang berujung sekarat. Wajah putih itu seolah mengartikulasikan kepucatan nasib.
Nasib ialah ide abstrak, tapi kita menemukan artikulasinya pada pertunjukan ketiga yang juga dimainkan Andy. Dan pada nomor karya berjudul Kesibukan di Ruang Bawah itu ia "menyeberang ke teater". Wajahnya yang semula putih diganti dengan wajah jam dinding berbahan kayu tanpa jarum. Ia mengenakan topeng waktu (jam dinding). Apabila jam dinding itu mengandaikan pada waktu dan durasi, maka waktu itu telah lenyap, berhenti, karena jarum sebagai penandanya telah dilucuti. Waktu telah sekarat, atau bahkan mati.
Menyeberang
Apa yang saya maksud dengan "menyeberang ke teater" adalah Andy membutuhkan objek-objek material, sebuah properti. Secara spontan, sesekali kata-kata keluar dari mulutnya. Tampaknya ia tak cukup hanya mengandalkan gerakan, ia membutuhkan objek untuk menebalkan identifikasi atas topik yang hendak dibicarakan. Selain jam dinding di wajahnya, ia juga menggunakan penanak nasi listrik (rice cooker), dua buah kursi, dan satu balok yang ia gunakan untuk duduk dan tidur.
Penanak nasi dan topeng jam adalah dua objek yang kuat, yang boleh jadi mengunci makna. Adegan berkisar antara menunggu, lalu bergerak risau tapi kemudian menunggu lagi. Pada adegan tertentu, Andy melepas topeng jam dan benda itu segera berubah menjadi bayi. Ia menggendong jam dinding itu sambil mulutnya mengeluarkan suara tangisan bayi. Penanak nasi yang kosong, barangkali mengasosiasikan pada kelaparan, dan tentu saja kemiskinan.
Sementara itu, pada nomor pendek selanjutnya, Ficky tak melabur wajahnya dengan cat putih. Gerakan dan gestur yang dimunculkan cenderung abstrak. Itu karya keempat berjudul Ada Sesuatu yang Bergerak-gerak Sendiri. Tampaknya Ficky mengoperasikan tubuhnya bukan sebagai representasi atas aktivitas tertentu, melainkan memiuhkan gerakan keseharian dengan bertumpu pada emosi. Atau, emosi yang menggerakkan bagaimana tubuh diartikulasikan. Cara ini berkebalikan dengan Andy, ia membuat gerakan dan memasukkan emosi ke dalamnya. Tentu saja pernyataan ini adalah impresi saya sebagai penonton dan bukan fakta di balik proses penciptaan mereka yang tak saya ketahui itu.
Saya menikmati permainan Ficky sebagai koreografi tari. Satu kursi yang ia libatkan dalam karyanya bekerja sekadar sebagai tempat singgah dan bukan menjadi elemen yang membangun repertoarnya. Bunyi judul membuka tafsir bahwa sesuatu yang bergerak-gerak sendiri menandai koreografi seolah melucuti struktur dramaturgi yang ketat. Kehadiran penonton juga turut memengaruhi bagaimana suatu adegan ia lakukan. Agaknya, Ficky memberlangsungkan tindakannya berdasar apa yang dilihat dan dirasakan pada saat ia tengah duduk di kursi.
Andy melalui karya Nona Lisa: Suara-Suara Tak Terduga menutup pertunjukan malam itu. Dan, inilah pertunjukan yang menegaskan bagaimana Bengkel Mime Theatre tak berdiam di dalam semesta pantomim, tetapi hilir mudik di rumpun seni pertunjukan lain. Apabila pada Pertemuan Seusai Hujan saya menyebut tragedi karena kesedihan mampat dan tak menemukan jalan keluar dari gestur tubuhnya, maka pertunjukan terakhir ini tragedi dihadirkan dengan cara bermain-main, seolah-olah asyik.
Andy mengenakan pakaian perempuan dan ia mengunakan senapan dan pedang mainan anak-anak untuk "membunuh" para penonton yang berdiri di sekitar dirinya, dan tentu saja ia melakukan adegan sadis itu sambil tertawa. Penonton pun turut tertawa. Memang tak ada darah dan kematian. Tetapi menertawakan adegan pembunuhan seolah menormalisasi kekerasan. Kalimat terakhir yang saya terakan merupakan cara bagaimana kelompok yang berdiri tahun 2004 di Yogyakarta ini berkelindan antara yang komedi dengan tragedi, antara pantomim, teater, dan boleh jadi juga tari.
Saya melewatkan pertunjukan kedua yang dimainkan di tangga yang menghubungkan lantai satu dengan dua Galeri Lorong. Saya menarik diri dari lokasi pertunjukan berjudul Tidak Normal yang dimainkan Vicky itu untuk menghindar dari keramaian. Tempat yang tersedia terlalu sempit dan memaksa penonton harus berdempetan. Saya merasa pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman yang mengkhawatirkan. Juga menakutkan.
Saya melakukan pembedaan antara pantomim dengan teater untuk keperluan identifikasi guna menangkap nilai yang mereka kerjakan. Hal ini saya lakukan untuk melihat irisan dan sekaligus menatap kualitas lompatan antargenre. Namun, pembedaan itu tak menggugurkan kenyataan bahwa keduanya bertumpu pada satu rumpun seni pertunjukan. Hal ini mereka lakukan sejak Bengkel Mime Theatre berdiri. Mereka pernah mengadaptasi naskah masyhur karya Samuel Beckett berjudul Waiting for Godot dan drama Kocak Kacik karya Arifin C. Noer menjadi pertunjukan pantomim.
Apabila di awal tulisan ini saya menyebut "pantomimer", maka istilah itu bisa diubah menjadi "performer". Apabila seluruh pertunjukan dalam Opinion dianggap sebagai sepenuhnya teater, itu tetap sah saja. Dan bukan masalah.