Pagi tanggal 19 Februari 2017 ketika tiba di Madura, kami menonton pergelaran Karapan Sapi di lapangan Banyubunih, Kecamatan Galis, Bangkalan, sebelum akhirnya kami berpisah menuju daerah kunjungan masing-masing. Belum genap pukul 10 pagi, tim Sumenep yang terdiri dari Gunawan Maryanto, Giant, dan Anwari, sudah bergerak ke kabupaten ujung timur pulau Madura itu untuk menghadiri forum bulanan Masyarakat Santri Pesisiran yang bertempat di kampus STKIP PGRI Sumenep.
Saya dan Erythrina Baskoro masih tinggal di lapangan Banyubunih karena kami bertugas di daerah bagian barat Madura: Bangkalan dan Sampang. Informasi pergelaran Karapan Sapi kami dengar beberapa hari sebelum kami bertolak ke Pulau Garam. Pergelaran itu pun menjadi satu agenda tambahan di dalam daftar kunjungan yang sudah disusun sebelumnya. Karapan Sapi mesti kita kunjungi karena ia adalah tradisi sebagian masyarakat Madura yang cukup familiar di telinga orang luar Madura. Barangkali dari pergelaran itu kami dapat memeroleh pengetahuan dan informasi penting yang tak kita temukan saat berkunjung ke tempat lain di dalam daftar kunjungan kami.
Kira-kira pukul 15.00 kami bergerak ke kota kabupaten Bangkalan. Tujuan kami adalah bertemu dengan teman-teman Komunitas Masyarakat Lumpur (KML). Kami naik mobil L300—orang Madura menyebutnya ‘bus mini’—dari jalan raya kecamatan Galis. Sepanjang perjalanan kami berdesakan dengan penumpang lainnya. Magrib telah lewat ketika kami tiba di depan kampus STKIP PGRI Bangkalan. Di sana kami dijemput oleh Hayyul Mubarak dan Alan Kusuma, ketua KML periode 2017, menuju sanggar KML. Di sanggar mereka kami disambut oleh pendiri KML M Helmy Prasetya dan teman-teman anggota KML lain.
Malam itu kami ngobrol tanpa dibatasi tema-tema tertentu, tapi kedatangan kami membuat mereka bercerita banyak hal tentang Bangkalan, dari politik hingga kesenian. Dari obrolan itu kami memeroleh informasi dari Anwar Sadat, seorang guru dan mantan ketua KML, bahwa di daerah Bangkalan ada kesenian Sandur yang pergelarannya hanya beroperasi di lingkaran para petinggi desa. Ia adalah jenis kesenian tradisi namun sangat eksklusif. “Masyarakat tidak mudah mengakses kesenian itu karena penjagaannya sangat ketat,” kata Anwar Sadat. Sandur adalah kesenian sejenis tandak di mana para kepala desa memberi saweran kepada penari. Sekali sawer, satu kepala desa bisa menghabiskan uang jutaan rupiah.
Sementara KML, menurut M Helmy Prasetya, lebih banyak bergerak di sekolah-sekolah. Belasan anggota KML adalah guru dan dosen. Dengan posisi sebagai pendidik, maka gerakan mereka adalah pembinaan seni kepada siswa-siswa. Namun bukan hanya karena alasan tersebut, Helmy menambahkan, kesenian di Bangkalan tidak tumbuh seperti di Sumenep. Oleh karena itu, mereka lebih tertarik untuk ‘membuat lingkungan kreatif’ di Bangkalan melalui pembinaan ke sekolah-sekolah dengan sastra, teater, dan musik.
Malam pertama di Madura kami habiskan di sanggar KML. Besoknya, tanggal 20 Februari 2017, kami pergi ke Museum Cakraningrat Kabupaten Bangkalan. Mulanya kami ingin melihat-lihat koleksi museum, namun kedatangan itu malah mempertemukan kami dengan Kepala Bidang Kebudayaan Disparpora Bangkalan, Hendra Gemma Dominant. Melalui Pak Hendra kami mendapat informasi tentang kesenian Bangkalan dari sudut pandang pemerintah. Bagi dia, kesenian yang tidak membawa semangat tradisi, sulit mengakses fasilitas dari pemerintah. Sementara itu, anak-anak muda Bangkalan justru lebih banyak menyukai seni modern seperti teater. Jenis kesenian semacam itu, ketika dihadapkan pada proses birokrasi, tidak bisa difasilitasi pemerintah. “Karyanya tidak bisa dinikmati masyarakat secara umum,” ujarnya.
Selepas dari Museum Cakraningrat, kami bertolak ke situs yang paling masyhur di Madura, yaitu pasarean Syaikhona Kholil Bangkalan. Beliau adalah guru dari banyak ulama besar di Indonesia. Kami bertemu dengan seorang juru kunci yang masih muda usianya, Ustad Markum. Dia lahir di Pontianak. Namun konflik Sambas pada tahun 1999 membuat Markum kecil dan anak-anak lain seusianya dibawa ke Madura dan Jawa oleh Kiai Fuad Amin, cucu Syaikhona Kholil. Ketika itu Ustad Markum baru saja lulus Sekolah Dasar. Anak-anak sepertinya disebar di beberapa pondok pesantren untuk tinggal dan belajar di sana.
Setelah mendengar kisah Ustad Markum tentang konflik itu, kami tergerak untuk bertanya tentang konflik Sunni-Syiah di Sampang, satu konflik yang pada tahun 2012 cukup menyita perhatian publik Indonesia bahkan dunia. Ustad Markum bertutur bahwa ia tidak tahu kronologi dan latar belakang bagaimana konflik itu terjadi. Oleh karena itu ia tidak bisa berkomentar.
Sebagaimana malam pertama, malam kedua kami habiskan di sanggar KML. Besoknya, sekitar pukul 10 pagi tanggal 21 Februari 2017, kami bertolak ke Universitas Trunojoyo Madura (UTM) untuk bertemu beberapa kawan pegiat teater. Bulan Agustus 2017 mereka akan menjadi tuan rumah hajatan Temu Teater Mahasiswa Nusantara (Temu Teman). Jaelani, anggota Sanggar Nanggala UTM dan ketua panitia Temu Teman menuturkan bahwa kesenian di Bangkalan lebih hidup di lingkungan pelajar-pelajar SMA. Menurut Jaelani, teater-teater pelajar tidak hanya ada di kota kabupaten, melainkan juga di SMA-SMA yang berada di pelosok desa. “Mereka juga punya paguyuban guru seni. Jadi, komunikasi antar komunitas sangat erat,” ujar Jaelani.
Soal agenda Temu Teman, Jaelani akan mengangkat tema “Madura dan Laut Kenangan”. Tema itu berangkat dari pembacaan atas situasi sosial selepas Jembatan Suramadu diresmikan pada tahun 2009 silam. Suramadu memang membuat akses transportasi lebih efisien, namun pada saat yang sama jembatan itu mematikan potensi jalur laut, yaitu moda transportasi kapal Fery dari Pelabuhan Kamal Bangkalan ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Transportasi tersebut sudah mulai ditinggalkan sehingga tinggal tiga kapal saja yang masih beroperasi. Hal itu menyebabkan penghasilan warga Kamal yang sebagian besar adalah pedagang semakin menyusut. Akibat lainnya, Pelabuhan Kamal jadi laut mati. Menurut Jaelani, wilayah itu sekarang menjadi tempat transaksi jual-beli narkoba. Akibatnya, aksi pembegalan semakin banyak. “Pembegal itu mengambil motor. Artinya ada kebutuhan (ekonomi) yang besar. Itu narkoba jenis sabu. Pelakunya pelajar,” tutur Jaelani. Selain pembacaan atas situasi sosial di Bangkalan, Temu Teman juga akan memanfaatkan potensi seni pertunjukan di Madura. Mereka akan mengadakan Petik Laut di Kamal dan workshop teater folklor.
Adzan Dzuhur telah lewat satu jam. Kami bergerak kembali ke sanggar KML untuk berkemas dan bersiap menuju Sampang, satu daerah yang membuat kami cukup cemas. Kecemasan pertama bersumber dari pendapat umum bahwa Sampang adalah salah satu daerah tertinggal di Jawa Timur, baik dari segi pendidikan maupun pendapatan ekonomi masyarakatnya. Perkara itu yang semakin menguatkan alasan bahwa tingkat kriminalitas di Sampang cukup besar. Kecemasan kedua ialah kami tidak memiliki cukup kenalan untuk sekadar singgah dan bertanya. Kami hanya mengantongi satu nama, yaitu Umar Fauzi Ballah dari Komunitas Stingghil Sampang. Kami berharap Fauzi menjadi pintu pertama yang nantinya dapat membawa kami memasuki banyak hal di Sampang.
Sore hari kami tiba di Sampang dan turun di depan Hotel Rahmat. Kami akan menginap di hotel tersebut dan Fauzi akan menemui kami di sana. Namun hingga malam dia tak kunjung datang. Sekitar pukul 9 malam sebuah pesan masuk. Fauzi berkabar bahwa ia tidak bisa datang karena masih bekerja, dan dia berjanji akan datang besok pagi. Saya mengiyakan.
Pagi tanggal 22 Februari 2017, sekitar pukul 10 Fauzi datang dan mengajak kami jalan-jalan ke pelabuhan Tanglok Sampang. Apa yang kami harapkan dari Fauzi tergelar dengan purna. Darinya kami mulai bisa menyusun agenda perjumpaan dengan teman-teman di Sampang. Fauzi menghubungi teman-temannya dan memberi kabar bahwa ada tamu yang datang dari Jogja untuk berjumpa. Sesuai usulan Fauzi, siang itu kami bergerak ke Pondok Pesantren Al Mubarak, Lanbulan, Batorasang, Sampang. Di sana kami bertemu Ustaz Zamzamul Adhim yang juga pendiri Pustakan Madura, sebuah komunitas kepenulisan sekaligus lapak penjual buku online.
Gerakan Ustaz Zamzam dengan teman-teman Pustaka Madura berkisar di lingkungan pesantren di Sampang. Menurut Ustaz Zamzam, pesantren di Sampang tidak seperti pesantren di Sumenep yang lebih terbuka terhadap kesenian. Mereka memulai gerakannya di pesantren tempat ustad Zamzam mengajar. Mulai dari membuat buletin kecil sampai membuat diskusi dengan mengundang penulis dan seniman dari luar. “Para pengurus di sini kurang apresiatif pada kegiatan sastra dan seni yang saya lakukan, tetapi tetap saya lakukan. Saya bahkan tidak izin bikin kegiatan,” tutur Ustaz Zamzam. Inisiatif Ustaz Zamzam bermula dari teman-teman santri yang suka menulis, tapi tidak punya wadah mengembangkan minatnya.
Malam hari, sehabis salat isya’, saya menemui Kiai Ghazali, pengasuh Pesantren Lanbulan. Namun kami hanya sebatas bersalaman karena Kiai Ghazali harus segera pergi untuk menghadiri undangan pengajian.
Tanggal 23 Februari 2017 adalah hari yang mendebarkan. Kami ditemani Fauzi dan Hayat, anggota Ujicoba Theatre Sampang, akan mengunjungi daerah Omben, tempat konflik Sunni-Syiah terjadi. Dua hari sebelumnya kami mencari cara untuk bisa ke sana, tetapi kami merasa kesulitan karena tidak punya kenalan yang dapat membawa kami menemui warga Karanggayam, tempat konflik terjadi. Pelan-pelan semuanya tersingkap. Di Omben kami bertemu dengan Tika, pendiri Teater Tombak. Kami berharap Tika dapat membawa kami ke Desa Karanggayam. Namun Tika sendiri tidak berani. Baginya, konflik itu sudah reda, dia tidak mau menghidupkan api kembali. “Itu masih sensitif,” kata Tika. “Di sana (Karanggayam) masih dijaga, ada pos-pos penjagaan sampai sekarang,” tutur Dika, adik kandung Tika. Menurutnya, warga Karanggayam tidak mudah membuka informasi. Jarak dari rumah Tika ke Desa Karanggayam sekitar 5 KM, dan mereka tidak punya kenalan untuk dikunjungi di sana.
Oleh sebab itu, kami merasa buntu. Kami memilih kembali ke Kota Sampang untuk melakukan agenda selanjutnya. Sore sekitar pukul 16.00 kami berkunjung ke rumah Bapak Rahman, seorang penari dan pendiri Kikana Art Production. Pak Rahman bercerita banyak tentang proses berkeseniannya, mulai dari Jakarta dan masuk IKJ hingga pulang ke Madura dan mendirikan Kikana. “Kikana sanggar mandiri. Sampang kota kecil. Jadi tidak usah mengharap pemerintah memberi apresiasi terhadap seni. Kalau berkesenian di sini mesti pintar mencari jaringan,” tutur Pak Rahman. Namun kenyataan yang menarik adalah Sampang yang dianggap paling terbelakang dalam konteks kesenian justru satu-satunya daerah di Madura yang memiliki gedung kesenian.
Tanggal 24 Februari 2017 adalah hari terakhir kami di Sampang. Masih ada satu komunitas yang akan kami kunjungi, yaitu Biruh Ompos. Itu adalah sebuah komunitas di luar kota Sampang, tepatnya di desa Gunung Eleh, Kecamatan Kadungdung, Sampang. Komunitas itu diinisiasi oleh pemuda bernama Moh. Iqbal Fathoni atau biasa dipanggil Fafan. Gerakan Fafan tidak hanya memberdayakan anak-anak desa untuk mencintai seni, tapi juga mengajak para petani di desanya untuk belajar bersama cara menanam yang baik demi hasil panen yang memuaskan. Fafan juga bisa disebut sebagai seorang aktivis. Dia terlibat di lembaga Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Sampang. Aktivitas sehari-harinya adalah pergi ke RSUD Sampang untuk membantu dan mendampingi para pasien yang tidak mampu.
Hari itu, di pendopo kepala desa Gunung Eleh, kami menonton pertunjukan teater karya siswa-siswi MTs Assahidin, tempat Fafan mengajar teater. Pertunjukan itu akan dibawa ke Kediri untuk mengikuti pergelaran festival seni pelajar se-Jawa Timur. Teater dari MTs Assahidin mewakili Sampang untuk tingkat SMP sederajat.
Pada malam ketika kami berkemas, Pak Untung datang menemui kami di Hotel Bahagia. Pak Untung adalah seniman senior di Sampang. Kami membicarakan banyak hal. Menurut Pak Untung, kesenian di Sampang terbatas pada event. Pentas atas inisiatif sendiri jarang dilakukan, atau bahkan tidak ada. Namun banyak anak muda di Sampang yang mulai giat berkesenian di luar sekolah. Bagi beliau, itu adalah tanda-tanda baik untuk Sampang.
Pagi-pagi sekali pada tanggal 25 Februari 2017, kami bertolak ke stasiun Gubeng, Surabaya. Pukul tujuh kami berangkat dari Gubeng. Sore harinya kami sudah tiba di Yogyakarta. Perjalanan yang menyenangkan!