𝖨𝗆𝖺𝗇 π–‘π—Žπ–½π—π—‚ π–²π–Ίπ—‡π—π—ˆπ—Œπ–Ί 𝖽𝖺𝗇 π–ͺ𝖺𝗆𝗂
Foto oleh Shohifur Ridho'i (Sumenep, 2016)
ACAP SAYA mendengar sebuah anekdot di kalangan sastrawan di Yogyakarta ketika memercakapkan tentang puisi dan/atau penyair Madura. Misalnya, "kalau kamu nyebrang dari Surabaya ke Madura, pulang-pulangnya kamu sudah jadi penyair." Atau, "di Madura, kalau kamu lempar batu ke atas, ketika turun batu itu sudah jadi penyair." Misalnya lagi, "jangan kelamaan parkir motor di UIN, nanti motormu jadi penyair." UIN Sunan Kalijaga, mungkin nyaris semua orang tahu, adalah kampus tujuan sebagian besar orang Madura yang ingin kuliah di Yogyakarta sebab di sana banyak karib dari kampung halaman dan, terutama, biayanya murah bagi keluarga petani seperti kami.

Anekdot itu bertumpu pada situasi di mana Yogyakarta adalah salah satu kota yang ditinggali banyak penulis. Di antara sekian banyak penulis yang menghidupi dan memberi makna pada kota ini, beberapa berasal dari Madura. Pendeknya, anekdot di atas terhubung dengan kenyataan di lapangan, seperti yang digambarkan anekdot ini: "di Jogja, penyair itu kayak tambal ban, hampir di setiap tikungan ada (penyairnya)."

Tentu saja saya tidak tahu asal muasal anekdot tersebut. Namun, seperti banyak riwayat anekdot di banyak tempat, kebanyakan hadir dengan cara anonim, alias tidak diketahui dengan jelas siapa yang mengarangnya pertama kali. Demikianlah, anekdot tentang Madura di lingkungan sastra Yogyakarta telah menjadi milik umum. Dan sebagaimana anekdot, saya sebagai orang Madura menimpalinya dengan tersenyum tipis atau tertawa. Setidaknya, bagi saya, dengan anekdot itu, para sastrawan Madura dianggap menjadi bagian dari trajektori sastra (di) Yogyakarta.

Kabar Duka dan Puisi

Saya mengingat sejumlah anekdot di atas beberapa jam sehabis mendengar kabar duka tentang penyair yang saya hormati. Demi menghibur diri karena diliputi kesedihan, saya membaca puisi ini: sehabis kututup pintu dan terdiam, sesaat/ tampaklah diriku, ada/ di mana-mana/ di setiap benda.

Petikan puisi bertitimangsa 1969 tersebut ditulis oleh Iman Budhi Santosa (IBS). Puisi yang terkumpul dalam buku puisi tunggal Dunia Semata Wayang (2005) karya IBS tersebut adalah puisi yang saya baca di suatu pagi menjelang siang yang panas, pada almanak 10 Desember 2020, sehabis saya membaca berita duka tentang penyair kelahiran Magetan, 28 Maret 1948, itu di dinding Facebook.

Saya terdiam dan membatin, betapa kaya sumbangan IBS, bukan hanya bagi kehidupan sastra di Yogyakarta khususnya, tetapi juga bagi orang-orang yang mengenal dan membaca sajaknya. Tentu saja yang disebut 'sumbangan' itu bukanlah sesuatu yang material, melainkan pengetahuan tentang puisi dan makna hidup menjadi manusia. Oleh karena itu nama beliau penting bukan hanya sebagai penyair, tetapi juga sebagai guru di mana tuturannya bagai sumber air di terik siang. Oleh karena itu, sikap hormat para teman-teman muda kepada beliau ditunjukkan dengan memanggilnya "Romo Iman."

IBS dan Sastra Madura

Dalam mengenang IBS, kita bisa masuk melalui kisah Malioboro sebagai situs perjumpaan bagi anggota komunitas Persada Studi Klub pada tahun 1960-an, di mana IBS muda dan penyair-penyair seangkatannya belajar kepada seorang munsyi puisi Umbu Landu Paranggi, atau melalui percakapan-percakapan kecil di depan pintu kediaman beliau ketika malam belum matang benar, di dekat naungan pohon sawo, Jalan Dipokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta. Tapi saya ingin mengenang beliau melalui sumbangan pikirannya mengenai ekosistem puisi di lingkungan penyair-penyair Madura yang sedang atau sementara menempuh hidup-belajar di Yogyakarta.

Tiga hari setelah IBS berpulang, penyair dan pendiri Arsip Puisi Penyair Madura Indonesia (APPMI), Selendang Sulaiman, menulis kesaksian di dinding Facebooknya: "tanpa Pak Iman Budhi Santosa, APPMI tidak ada. Sebab dari Pak Iman-lah pemantik ide keberadaan APPMI." Untuk keperluan publikasi tulisan ini, kalimat Selendang telah saya sunting seperlunya. Pada paragraf selanjutnya, Selendang menulis tuturan IBS secara verbatim: "ini adalah masa di mana ada banyak anak Madura yang kuliah di Yogya menekuni dunia sastra. Banyak sekali. Tidak pernah terjadi sebelumnya selama saya tinggal di Yogya. Bisa jadi tak lagi terulang di masa mendatang. Ini penting. Harus dicatat. Harus ditulis. Ini fenomena. Harus ada yang mencatat. Bisa dikatakan, kalau di setiap sudut Jogja ada penyair, maka di setiap sudut itu pasti ada orang Madura."

Tuturan tersebut bersandar pada kenyataan bahwa pada periode tahun 2000-an ekosistem sastra di Yogyakarta turut diramaikan oleh kehadiran penulis-penulis dari Madura, yang jumlahnya mungkin lusinan. Tapi tulisan ini tidak ingin berpokok pada kuantitas sebagai makna. Namun, sebagai ilustrasi kecil, bukalah buku Lintang Panjer Wengi di Langit Yogya (2014) terbitan Pesan Trend Budaya Ilmu Giri yang berisi 90 nama penyair Yogya dari berbagai generasi. Buku yang disusun oleh IBS dan Mustofa W. Hasyim itu memasukkan 10 penyair Madura yang semuanya datang dari generasi 2000-an. Tentu itu nama sebagian kecil dari seluruh penyair Madura yang mukim di Yogya.

Apabila Anda menginginkan informasi yang lebih detil lagi, mintalah kepada penghayat arsip Muhidin M. Dahlan dari Indonesia Boekoe untuk menuturkan kerja 'sensus penyair' yang ia lakukan beberapa tahun silam. Gus Muhidin membacakan hasil sensusnya di malam yang tenang pada 24 Desember 2016, di hadapan penghikmat sastra Yogya dalam acara Pesta Puisi Akhir Tahun yang dihelat oleh Studio Pertunjukan Sastra, bertempat di Amphiteater, Taman Budaya Yogyakarta.

Jika Anda masih menginginkan data yang lebih spesifik lagi, maka berkunjunglah ke laman arsippuisipenyairmadura.com dan silakan tenggelam dalam lautan kata dan data. Dan Anda akan memahami betapa pikiran IBS tentang perlunya upaya pencatatan sebagai penandaan bahwa ada satu periode di mana penyair-penyair Madura turut memberi warna dalam sastra di Yogyakarta bukanlah pernyataan untuk menghibur para penyair Madura yang acap bersibuk-khusuk menahan lapar belaka.

Dalam urusaan ide "pencatatan", satu hal lagi yang perlu kami catat, yaitu terbitnya buku Ketam Ladam Rumah Ingatan (2016). Terbitnya buku yang dikurasi dari puisi-puisi karya penyair muda Madura, baik yang tinggal di Madura maupun di luar Madura, itu ditemani oleh IBS, mulai dari diskusi awal sampai peluncurannya pada Februari 2016 di Sumenep. Buku ini sepenuhnya difasilitasi oleh LSS Reboeng (Jakarta), sebuah lembaga sastra yang diinisiasi oleh Ibu Nana Ernawati.

Demikianlah saya mengingat IBS dengan seluruh kenangan yang mampu saya ingat, juga gagasannya mengenai "pencatatan". Pencatatan, di level yang lebih lanjut, tidak saja tentang bagaimana puisi-puisi dapat didistribusikan ke publik luas, melainkan juga sebagai dokumentasi pengetahuan yang merekam satu periode sastra di Yogyakarta dan sekaligus Madura.

Apabila hal di atas lebih membicarakan pokok ekosistem puisi, maka berikut ini amatan IBS tentang puisi-puisi Madura: pada sebuah acara diskusi buku puisi di akhir tahun 2015, bertempat di gedung Teaterikal Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IBS memberi satu pendapat penting bahwa beliau tidak menemukan frasa dan atau diksi yang berasosiasi pada "kekerasan" seperti kata darah dan seterusnya. Kata kekerasan perlu saya beri tanda petik sebab dalam sejarah hubungan Madura dengan Jawa tidak hanya berkisar pada perselisihan berdarah antara Pangeran Trunajaya dengan Amangkurat III, tetapi juga bagaimana politik kekuasaan di masa lampau beroperasi di tingkatan politik stereotipikal. Kosa kata kekerasan seolah "dilembagakan" sebagai representasi atas watak orang Madura. Pembacaan IBS atas puisi-puisi penyair Madura penting sebab beliau mematahkan pandangan umum tersebut.

Demikianlah, puisi-puisi penyair Madura bertukar tangkap dengan ekosistem sastra di Yogyakarta, sebagaimana anekdot tentang penyair Madura yang dikisahkan dari warung kopi ke warung kopi lain di jalan Sorowajan.