Potret Seorang Sutradara
sebagai Penonton-Jauh
Shohifur Ridho'i
PADA SAAT memutuskan membuat pertunjukan dan berperan sebagai sutradara teater, pada saat yang sama ia juga memutuskan menjadi penonton teater. Ia ingin menyebut dirinya sendiri sebagai "penonton-dekat": penonton bagi teaternya sendiri.

Ketika latihan untuk satu penciptaan teater digelar, ia tidak berada di atas panggung, tetapi di duduk kursi penonton. Ia duduk sebagai salah satu kreator sekaligus penonton. Ia menatap sesuatu yang sedang berlangsung di depan matanya.

Penonton pertama dari suatu teater adalah sutradara. Namun, baginya, sutradara bukanlah figur pusat. Sutradara tak menggenggam seluruh pengetahuan dan karenanya ia mesti menggali dan menerima pengetahuan yang tersebar di seluruh tim dan elemen-elemen lainnya, dan menjadikannya sumber daya bagi perjalanan proses penciptaannya. Sutaradara adalah salah satu subjek dari sekian subjek yang ada di dalam suatu penciptaan. Selain sutradara, subjek lainnya adalah aktor, cahaya, ruang, waktu, benda-benda, dan semacamnya.

Kata "subjek" dipakai sebab istilah tersebut menunjukkan suatu hubungan, suatu kategori yang mengandaikan relasi antarsubjek. Setiap subjek tidak mengisolasi dirinya dari subjek lain. Kenyataan bahwa subjek di dalam struktur proses penciptaan selalu mengandung hierarki adalah hal yang sumir ditampik. Dan, itu bukan masalah. Namun, meski demikian, bukan berarti sama sekali tak dapat dinegosiasi. Menegosiasi berarti kemauan dan kehendak untuk mendengar dan menerima suara subjek-subjek lain.

Sutradara memang pihak pertama yang didaulat (atau mendaulat dirinya) untuk duduk di kursi penonton, tetapi bukan berarti tatapannya ke arah panggung adalah tatapan tunggal. Tidakkah sang sutradara itu juga sedang "ditatap" oleh panggung, yang di dalamnya terdiri dari sekian subjek? Hubungan silang saling ini mengandaikan bahwa teater dan penonton bukanlah kategori yang dikotomis. Teater ada karena adanya penonton.

Tatapan panggung ke arah sutradara (yang juga adalah penonton) berupa peristiwa. Sesuatu yang sedang bergerak di panggung menciptakan reaksi (juga impresi) bagi sang sutradara, dan demikian pula sebaliknya. Hubungan antara sutradara dengan panggung––dengan seluruh subjek yang ada di dalamnya––adalah hubungan yang saling bertukar tangkap, saling menimpali.

Jika ada yang bisa dibanggakan dari posisi menjadi sutradara, maka satu-satunya hal yang membuat ia bahagia adalah menjadi penonton pertama dan penonton-dekat, sebelum akhirnya teater bertemu dengan para penonton-jauh, yakni para penonton yang membeli karcis, yang berjarak dengan panggung belakang.

Penonton-dekat, yakni sang sutradara, dengan demikian, perlu juga mengandaikan dirinya sebagai penonton-jauh. Dengan begitu, sutradara juga memikirkan suatu hubungan dengan kenyataan di luar teater: bagaimana suatu gagasan, wacana, isu––yang berlangsung di panggung sosial––ditelaah sedemikian rupa dan lantas dilaksanakan di panggung teater. Atau, bagaimana suatu drama sebagai teks yang datang dari masa lalu (karena ditulis sebelum dibawa ke panggung) meresonansikan yang kini. Sebaliknya, bagaimana "yang kini" mendapat momen pelaksanaan kata-kata melalui drama. Membayangkan dirinya menjadi penonton-jauh berarti membayangkan dirinya menjadi masyarakat di lingkungan sosial yang luas. Hal ini menunjukkan bahwa panggung teater sebagai subjek tak mengisolasi dirinya di bawah sorotan cahaya lampu. Sementara di luar sorot cahaya lampu panggung bukanlah kegelapan.

Ia (ingin) mencatat sejumlah pertunjukan sebagai penonton-jauh. Tulisan-tulisan di laman ini sekadar catatan saja, sebab ia merasa tak mampu menuliskannya dengan kerangka teori yang ketat, argumentasi yang kuat, dan bahasa yang memikat. Ia tak memiliki kapastitas pengetahuan yang mumpuni dan karenanya tak mampu menulis, katakanlah, suatu kritik. Ia ingin menyebut sejumlah tulisan di laman ini sebagai "tilikan", suatu kunjungan sederhana untuk bercakap dengan karya, melalui tulisan. Itu sudah cukup membahagiakan dan sekaligus menghibur dirinya. Ia hanya menulis (atau bisa jadi cuma mengetik) untuk satu upaya sederhana: mengikat apa yang diingat sesaat setelah pertunjukan disimak. Dan, pembaca yang baik budinya, yang utama dari tindakan demikian adalah berjumpa, lalu berinteraksi, lantas bertukar pikiran dengan karya pertunjukan.

"Menonton" memang cukuplah sebagai tindakan berjumpa dengan karya, tetapi ia merasa selalu ada dorongan untuk melanjutkan tindakan tersebut dengan "menilik" guna melampaui sekadar jumpa dan beramah-tamah.

Maka beginilah jadinya, penonton-dekat adalah ia yang menatap panggung belakang dan sekaligus panggung depan. Sementara penonton-jauh adalah ia yang menatap panggung depan saja, yang disorot cahaya.

Ia adalah orang yang mendaku diri sebagai sutradara (meski kadang tak percaya diri untuk mengakuinya), si penonton-dekat bagi teaternya sendiri. Dan, di laman ini ia ingin menjadi penonton-jauh, penonton untuk teater yang diciptakan orang lain.


Salam.

Shohifur Ridho'i


Catatan tambahan:

(1) Meskipun ia menyebut kata "teater", sesungguhnya tulisan-tulisan di laman ini tidak terbatas hanya pada pertunjukan teater. Kata "teater" bisa diubah menjadi "tari" dan "sutradara" dapat diganti dengan "koreografer". Si penonton-jauh juga menengok ke panggung tari, bisa jadi juga menyeberang ke seni rupa dan disiplin seni lain. Meskipun demikian, ia hanya bergerak dari satu tumpuan: pertunjukan, baik pertunjukan sebagai bentuk dan medium seni maupun pertunjukan sebagai paradigma (yang tak melulu menatap seni pertunjukan).

(2) Tulisan-tulisan di laman ini tidak akan muncul secara reguler dengan disiplin waktu tayang yang ketat. Laman ini akan berisi unggahan baru apabila si penonton-jauh memiliki kemewahan waktu senggang dan terutama tidak malas mengetik. Dan, semoga juga tabah. Jadi, sesuka hatinya saja-lah.