I
Sekitar pukul 9 pagi kami tiba di lapangan Banyubunih, Kecamatan Galis, Bangkalan. Kami turun dari mobil dan berjalan sepanjang kira-kira 100 meter ke lapangan. Dari arah lapangan terdengar sayup musik saronen.
Sebelum karapan dimulai, sapi diarak sepanjang lapangan seperti karnaval dengan dandanan penuh pernak-pernik seperti binatang tunggangan raja. Setiap pasangan sapi diiringi seperangkat musik tradisional saronen. Sapi-sapi itu memeroleh kewibawaannya sebagai binatang terhormat ketika diarak. Namun, sehabis itu, mereka adalah gladiator yang harus mengalahkan lawan-lawannya. Begitu kami tiba di lapangan, karnaval sudah selesai, beberapa seniman saronen tampak berteduh di bawah tenda. Pagi itu sinar matahari mulai panas menyengat.
Saya tidak terlalu paham musik saronen tetapi ia berhasil membawa saya ke suatu masa yang jauh ketika saya menonton karapan sapi secara diam-diam sebab khawatir ketahuan guru ngaji. Terlintas di kepala saya betapa mengerikan gagang sapu dari bambu kuning mendarat di paha santri yang tak patuh pada perintahnya. Tak ada hal baik yang patut dipetik dari pergelaran Karapan Sapi, demikian guru ngaji saya meyakini. Di sana hanya ada judi, hewan yang disakiti, pertengkaran, ilmu hitam, uang, dan kekuasaan. Agama melarang tindakan tersebut.
Saya mencoba mengingat kapan terakhir kali saya menonton karapan sapi, tapi tak berhasil. Namun, saya meyakini lebih 10 tahun, saya tidak menginjakkan kaki di lapangan karapan. Musik saronen, bau balsam, luka dan darah di pantat sapi, joki cilik yang pemberani, dan aroma kotoran sapi membuat siang yang terik itu membawa saya pada masa-masa yang telah berlalu.
Dan kali ini, pada almanak 19 Februari 2017, saya diberi kesempatan memasuki Madura, salah satunya, melalui pergelaran Karapan Sapi, dengan cara yang lain: menjadi peneliti. Menjadi peneliti di daerah kelahiran adalah tantangan tersendiri. Saya dituntut untuk berjarak, tetapi di samping itu, Madura dan hal-hal di sekitarnya selalu membuat saya tak kuasa menolak kenangan dan memaksa saya berada di dalamnya. Dalam tegangan semacam itu, saya menulis catatan ini.
II
Lelaki bertubuh gempal dan berkulit gelap serta kumis tebal melintang di atas bibirnya itu bernama Hannan, seorang patron di Kecamatan Galis. Berhasil atau tidaknya pergelaran kaparan sapi berada di tangannya. Ia dihormati sekaligus ditakuti, bahkan kepala desa di Kecamatan Galis patuh pada perintahnya. Informasi itu saya peroleh dari seorang polisi yang sedang bertugas di lapangan Banyubunih siang itu.
Bapak Hannan berada di atas panggung bersama para juragan sapi dan para tokoh desa duduk memerhatikan jalannya perlombaan. Saya cukup lama memerhatikan panggung itu dari jarak lima meter di depan mereka. Aneh rasanya melihat pemandangan itu, terutama salah seorang juragan dan istrinya yang saya tak tahu namanya. Di pergelangan tangan kanan-kiri si istri, melingkar perhiasan emas besar-besar. Banyak sekali jumlahnya. Nyaris menutupi lengannya. Kalung emas seperti rantai kecil-kecil lebih dari satu buah melingkar di lehernya. Meskipun si istri memakai jilbab, kalung itu dibiarkan kelihatan. Sementara si suami, selain gelang emas besar dan jam tangan yang tampaknya mahal sekali, ia juga memakai kalung berkepala celurit emas kecil. Itu satu pemandangan yang membuat saya takjub. Ajaib benar orang ini. Mudah sekali rejekinya.
Pemandangan itu membuat saya melihat orang Madura yang lain: glamor. Ya, Karapan Sapi bukan sekadar pertunjukan adu lari sapi, melainkan juga pertunjukan kekayaan pemiliknya.
Para juragan, seperti orang-orang di atas panggung kehormatan itu biasanya dipanggil Abah, satu panggilang terhormat yang biasanya dikenakan kepada seorang pemuka agama atau seseorang yang sudah naik haji. Saya yakin orang-orang di atas panggung itu sudah naik haji, maka panggilan Abah, dalam derajat tertentu, pantas belaka bagi mereka. Di Madura, terutama di komunitas pergelaran sapi dan di pemerintahan, naik haji bukan saja perkara menjalankan rukun Islam yang kelima, melainkan juga tentang eksistensi. Naik haji seperti prosedur yang harus dilakukan untuk memeroleh pengakuan dari masyarakat. Dengan modal itu, yang sudah naik haji bakal diakui sekaligus dihormati. Salah satu contohnya adalah ketika nama sapi dipanggil melalui corong speaker TOA, lalu panggilan itu digenapkan dengan nama sang pemilik lengkap dengan gelar hajinya.
Cukup lama saya berpikir dan mencari cara supaya saya bisa bicara dengan Pak Hannan. Kesempatan itu datang ketika beberapa wartawan mewawancarainya. Ketika mereka selesai berbincang, saya masuk dan memperkenalkan diri sebagai peneliti dari Yogyakarta yang tertarik untuk mengetahui Karapan Sapi. Keputusan menjadi orang ‘Jawa’ dan memakai ‘Bahasa Indonesia’ saya lakukan secara tiba-tiba sebab sesibuk apapun, orang-orang macam Pak Hannan biasanya menyediakan waktu lebih untuk ‘tamu’ yang menampakkan antusiasnya pada Karapan Sapi. Itu benar belaka. Mengetahui bahwa saya dari Jawa yang berbekal buku catatan kecil dan bolpoin, ia memperbaiki duduknya dan langsung merespons dengan sejumlah kalimat tentang betapa Karapan Sapi adalah media untuk mempererat hubungan empat kabupaten di Madura dan juga daerah-daerah di Tapal Kuda. “Karapan Sapi juga bisa menarik banyak wisatawan,” ucapnya pelan dengan Bahasa Indonesia yang terasa kaku dan tak akrab di lidahnya. Ia juga berkata bahwa sebagai peneliti dari Jawa, saya perlu juga mengabarkan kebaikan-kebaikan dalam Karapan Sapi kepada banyak orang. Saya mengangguk dan tersenyum.
III
Saya tergoda dengan komentar Pak Ary, seorang anggota TNI dari Koramil Kecamatan Galis bahwa Karapan Sapi sarat dengan judi. “Judinya jelas ada. Biasanya di tempat start itu. Mereka yang di sana anak buah juragan. Tapi judinya masih kecil, masih ratusan ribu. Nah, kalau yang di atas itu (di panggung), itu para juragan. Itu judinya bisa puluhan sampe ratusan juta.”
Perkara judi bukan barang aneh dalam pergelaran Karapan Sapi. Itu sudah sering saya dengar, tetapi hari itu saya ingin melihat sendiri. Saya bergerak ke garis start dan di tempat itu, sekitar tiga puluh menit saya memerhatikan orang-orang di sekitar saya. Ucapan Pak Ary benar belaka. Di tangan mereka saya melihat uang dua puluhan sampai ratusan ribu. Di tempat itu, judi digelar secara terbuka, tidak diam-diam. Sejauh judi tidak mengganggu jalannya perlombaan, misalnya menciptakan keributan dan pertengkaran, aparat kepolisian tidak akan menyentuh mereka.
Sebelum sapi dilepas, orang-orang ini berkumpul dalam beberapa kelompok kecil dan membagikan uang pada si juru Bandar. Begitu sapi dilepas dan melesat ke garis finish, para pemenang judi ini segera menghampiri si Bandar untuk mengambil uangnya. Adegan semacam itu terus berlangsung sepanjang perlombaan.
Namun, ada hal yang lebih menarik ketimbang judi, yaitu bahwa Karapan Sapi tidak sekadar tentang perlombaan adu cepat lari sapi, melainkan juga alat untuk merebut pengaruh di masyarakat. Melalui Pak Bungkan, salah seorang kru tim Karapan Sapi dari Pagantenan, Pamekasan, saya beroleh informasi bahwa pemilik sapi karapan kebanyakan adalah kepala desa, selebihnya pengusaha. Itu masuk akal sebab biaya perawatan sapi tidak murah. “Yang punya sapi itu pak kalebun (Kepala Desa). Kalau saya petani, tidak bisa punya sapi karapan, tidak ada biayanya,” katanya. Lantas, saya semakin yakin kalau petani macam Pak Bungkan tak akan sanggup bahkan untuk kebutuhan sapi. “Jamunya telur sebanyak lima ratus butir dalam satu minggu. Itu mahal,” ucapnya.
Para Kepala Desa dan pengusaha itu menggunakan sapi karapan sebagai salah satu cara untuk merebut pengaruh dan eksistensi di masyarakat, terutama di kalangan kepala desa lainnya. Menurut Pak Ary, Karapan Sapi jadi alat supaya juragan itu dikenal dan disegani. “Kalau sapinya menang. Dia pasti terkenal. Kalau hadiahnya gak seberapa,” katanya. Ia melanjutkan, “ketika si juragan terkenal, dia bisa masuk ke lingkaran yang lebih luas lagi. Dia bisa mencalonkan diri jadi kepala daerah atau minimal kepala desa.” Ia juga menegaskan bahwa Karapan Sapi sebenarnya karapan gengsi antar Kepala Desa. Orang-orang itu mengeluarkan banyak biaya supaya bisa eksis.
Yang saya ceritakan di atas sesungguhnya lumrah belaka. Namun, ada satu yang membuat saya terkejut, yaitu Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati, sepasang suami istri ini adalah satu-satunya peserta dari Jawa tapi memiliki darah Madura. Mereka berasal dari daerah Tapal Kuda Probolinggo. Namun, bukan itu yang membuat saya terkejut, melainkan kenyataan bahwa Bapak Khoirul ini adalah seorang Doktor dan ia pernah bekerja di beberapa negara di Amerika dan Eropa. Sekarang ia bekerja di pengeboran minyak di Thailand. Bagi saya, seorang tamatan S3 turut menjadi juragan Karapan Sapi adalah kenyataan baru di Madura, sebab juragan lainnya, secara tingkat pendidikannya tidak perlu saya sebut di sini, paling bagus lulusan S1.
Soal tingkat pendidikan, saya pun tergoda untuk bertanya tentang alasan mereka turut berpartisipasi dalam Karapan Sapi. Jika peserta lain menganggap Karapan Sapi sekadar hobi atau sebagai cara merebut pengaruh atau paling tidak melestarikan tradisi, keterlibatan Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati di Karapan Sapi murni karena faktor bisnis. Ketika kami datang ke tenda sapinya, sepasang suami istri itu tidak berkumpul dengan juragan lainnya di panggung kehormatan. “Bapak tidak suka berkumpul di sana,” ucap Ibu Fatmawati. Dia melanjutkan, “kalau saya sih gak seperti juragan yang lain. Mereka itu pengen cari nama. Kalau saya nggak. Ini bisnis. Bagus sebagai bisnis.” Saya bertanya apakah mereka pernah naik haji dan Ibu Fatmawati menjawab, “alhamdulillah, sudah. Tapi ketika mendaftar ke lomba, bapak tidak mau gelar hajinya disebutkan. Itu gak penting, gak ada hubungannya dengan sapi.”
Menurut Ibu Fatmawati, Karapan Sapi Sebagai bisnis sangat menarik. Meskipun biaya perawatannya mahal, itu masih sebanding dengan hasil penjualan sapi ketika menjadi pemenang. Misalnya, tahun 2010 mereka membeli sepasang sapi dengan harga 26 juta. Setelah melalui perawatan yang baik dan menjadi juara, “sapi saya menang. Ditawar 300 juta. Saya lepas,” ujar Ibu Fatmawati sambil tersenyum.
Lain Bapak Khoirul dan Ibu Fatmawati, lain pula Bapak Rifa’ie. Laki-laki yang sejak tahun 1982 bekerja sebagai staf kecamatan di salah satu daerah di Pamekasan ini tidak memiliki motivasi lain mengikuti Karapan Sapi selain untuk hobi. Dia juga bukan tokoh desa atau pengusaha. “Itu kesenangan, mas. Saya terlibat di karapan sapi sudah lama sekali. Sampai sekarang masih. Saya pernah membeli sapi seharga 300 juta milik pak Khoirul itu. Kalau bukan kesenangan, gak masuk akal harga itu,” kata Bapak Rifa’ie.
Selepas itu, kami tak bisa meneruskan percakapan. Matahari perlahan jatuh dan sore telah tiba. Lomba Karapan Sapi belum selesai, tetapi kami harus segera bergerak ke kota Bangkalan sebelum hari jadi gelap. Sebagai peneliti, saya bahagia sebab saya mengetahui beberapa hal yang dulunya cuma sekadar omongan yang saya dengar dari mulut ke mulut. Sebagai orang Madura yang turut merasa memiliki kekayaan tersebut, beberapa hal memang perlu ditimbang dan dikoreksi, beberapa yang lain bisa diteruskan.