24 Jam Lembâna di Jogja (٢٤ جام لمبانا دي جوݢجا) merupakan sebuah inisiatif artistik yang merayakan pertunjukan jejaring praksis madhurâ’an / مادوراّن (“Madura sebagai metode”) sebagai pendekatan keperawatan kritis, taktikal, dan plural pada berbagai medan sosial. Proyek ini mengadopsi taktik jejaring niaga di belakang "panggung" Warung Madura (yang berakar pada niaga sate, bebek, bubur kacang hijau, sampai tukang cukur Madura) yang bergerak secara taktis, menyusupi tempat-tempat strategis, membangun dan mengisi jalan tikus lanskap urban, sekaligus menegosiasikan identitas melalui praktik keseharian. Relasi antara “Madura di Jogja” dan “Jogja dalam Madura” tidak dilihat sebagai oposisi biner, tetapi sebagai interaksi yang dinamis dan saling membentuk.
"24 Jam Lembana di Jogja" (24 Hours of Lembâna in Jogja) (٢٤ جام لمبانا دي جوݢجا) is an artistic initiative that celebrates the performance of a networked practice of madhurâ’an / مادوراّن (“Madura as method”) as an approach to critical, tactical, and plural forms of care across diverse social terrains. The project adopts the networking tactics operating behind the “stage” of Warung Madura (rooted in Madurese forms of commerce, ranging from peanut-sauce chicken satay and fried duck served with black spice paste, to mung bean porridge stalls and Madurese barbershops) which move tactically, infiltrate strategic sites, create and occupy the back alleys of the urban landscape, while simultaneously negotiating identity through everyday practices. The relationship between “Madura in Jogja” and “Jogja in Madura” is not understood as a binary opposition, but as a dynamic interaction in which each continually shapes the other.
“24 Jam Lembâna di Jogja” (٢٤ جام لمبانا دي جوݢجا) adalah teater yang berlangsung selama 24 jam, terdiri dari puluhan repertoar dengan ragam bentuk seturut dramaturgi waktu-sosial di Lembana, dimulai pukul 17.30 WIB dan berakhir pada pukul 17.30 WIB keesokan harinya. Pertunjukan ini terdiri dari penggabungan empat karakter repertoar, masing-masingnya mewakili pendekatan konseptual, artistik, dan sosial yang berbeda tapi saling terhubung.
“24 Jam Lembâna di Jogja” (٢٤ جام لمبانا دي جوݢجا) is a 24-hour theatre performance consisting of dozens of repertoires in various forms, following the socio-temporal dramaturgy of Lembâna. It begins at 5:30 p.m. Western Indonesian Time (WIB) and ends at 5:30 p.m. the following day. The performance brings together four repertoires, each representing a distinct yet interconnected conceptual, artistic, and social approach.
Pertama, repertoar Babad Lembâna, yaitu karya-karya pertunjukan yang dikurasi dari festival tahunan Babad Lembâna, sebuah inisiatif program Lembâna Artgroecosystem. Kedua, karya seniman Madura, baik yang tinggal di dalam maupun di luar Pulau Madura, dengan fokus pada isu-isu ke-Madura-an sebagai kerangka gagasan dan landasan penciptaan artistiknya. Ketiga, serial madhurâ’an, yaitu rangkaian nomor pertunjukan pendek yang secara khusus diciptakan untuk format 24 jam ini, sebagai bentuk eksperimentasi naratif, temporal, dan spasial. Keempat, pertunjukan vernakular yang bertolak dari praktik sosiokultural sehari-hari masyarakat di kampung Lembâna serta dari aktivitas ekonomi dan niaga warga Madura di wilayah Jogja.
First, the Babad Lembâna repertoire, comprising performance works curated from the annual Babad Lembâna festival, a program initiative of Lembâna Artgroecosystem. Second, works by Madurese artists, both those living on and beyond the island of Madura, focusing on issues of ke-Madura-an—Madura-ness—as a conceptual framework and artistic basis for their work. Third, the madhurâ’an series, a sequence of short performance pieces created specifically for the 24-hour format, as an experiment in narrative, temporal, and spatial forms. Fourth, vernacular performances emerging from the everyday sociocultural practices of the community in Lembâna village, as well as from the economic and commercial activities of Madurese communities in the Jogja area.
Empat watak pertunjukan ini dirancang untuk hadir secara bergiliran dan simultan sepanjang 24 jam, dengan mempertimbangkan karakter waktu dan dinamika sosial yang menyertainya. Dengan pendekatan ini, “24 Jam” menghadirkan pertunjukan sebagai pengalaman yang yang terbuka tetapi memiliki kontur, ketat tetapi tetap lentur, tampak sporadis tetapi tersusun, terlihat serampangan tetapi terukur, dan membuka kemungkinan berbagi sumber daya, menciptakan jaringan yang tumbuh dari tepi-tepi yang saling terhubung.
These four modes of performance are designed to take place both in succession and simultaneously throughout the 24 hours, responding to the character of each time period and the social dynamics that accompany it. Through this approach, “24 Hours” presents performance as an experience that is open yet contoured, rigorous yet flexible, seemingly sporadic yet composed, apparently haphazard yet measured—opening possibilities for the sharing of resources and the formation of networks that grow from interconnected margins.