Transit adalah jeda di antara dua titik. Kita lahir dan tumbuh dalam lanskap yang saling terhubung, yakni jaringan global yang memampatkan jarak, mempercepat pertemuan, dan mengalirkan informasi tanpa henti. Namun, di balik konektivitas itu, batas-batas tetap menegakkan garisnya. Batas yang mengklasifikasi identitas sosial, kelas, etnisitas, agama, gender, pengetahuan, dan entitas-entitas lain yang mengatur bagaimana kita saling melihat dan berinteraksi.
Di ruang transit, kita berada di antara "tidak sepenuhnya tiba, tidak sepenuhnya pergi". Kita menunggu, beristirahat sejenak, sambil merencanakan perjalanan berikutnya. Tubuh menyimpan ketegangan antara dorongan untuk bergerak dan kebutuhan untuk berhenti.
Pertunjukan ini membaca transit sebagai pengalaman generasi muda Indonesia yang terbiasa dengan ketidakpastian, pergeseran cepat, dan realitas ganda. Gerak hadir sebagai koreografi yang terfragmentasi, yang menggabungkan langkah ragu, jeda panjang, perpindahan mendadak, dan repetisi yang melelahkan. Ruang menjadi terminal yang tak pernah permanen.
Di tengahnya, transit juga menjadi ruang refleksi: sejenak memandang ke belakang, menimbang yang telah dilewati, dan mengintip kemungkinan di depan. Sebuah waktu yang rapuh, tapi justru di situlah kita merasakan tubuh kita sepenuhnya, berada di antara gerak dan diam, pertemuan dan perpisahan, jarak dan kedekatan.
Transit is the pause between two points. We were born and raised in an interconnected landscape, a global network that compresses distance, accelerates encounters, and circulates information without end. Yet behind this connectivity, boundaries continue to assert their lines. Boundaries that classify social identity, class, ethnicity, religion, gender, knowledge, and other entities that shape how we see and relate to one another.
In the space of transit, we exist in between never fully arriving, never fully leaving . We wait, rest for a moment, while planning the next journey. The body holds the tension between the urge to move and the need to stop.
This performance reads transit as an experience of young Indonesians accustomed to uncertainty, rapid shifts, and double realities. Movement emerges as a fragmented choreography that combining hesitant steps, long pauses, sudden shifts, and exhausting repetitions. Space becomes a terminal that is never permanent.
At its heart, transit is also a space for reflection: a moment to look back, to weigh what has been traversed, and to glimpse possibilities ahead. A fragile moment: yet it is precisely there that we feel our bodies most fully, suspended between motion and stillness, encounter and separation, distance and closeness.
Producer, dramaturg Shohifur Ridho'i
Choreographer Created collectively by dancers
Dancer Aisyah Maharani Ela Mutiara Radha Puri Septiany Valentina Ambarwati Yusi Ambar Sari
Music composer Jenar Kidjing
Lighting designer Oong M. Pathor
Crew Ceng Romli Sabaruddin
Production by rokateater
Performed at Kemah Budaya Kaum Muda, Candi Prambanan, Yogyakarta