Babad Lembâna berdiri tepat di persimpangan antara (1) nilai keruangan (spasialitas) di Lembâna dengan (2) sirkulasi produksi ekonomi hasil panen yang dibawa ke pasar dan situasi konsumsi pangan di rumah. Proyek ini menatap agrikultur sebagai jalinan relasi antara yang berada di ranah publik (pasar) dan ranah privat (rumah).
Nilai keruangan Lembâna tidak saja berpijak pada kondisi material lahan, irigasi, dan lain-lainnya, melainkan juga menimbang nilai kultural berupa legenda dan mitos yang memberi lanskap atas kesemestaan ruang dan tempat. Di Lembâna terdapat tiga situs yang, menurut warga, tidak diketahui asal muasalnya. Situs tersebut berada di atas bukit berupa kuburan, sumur, dan langgar. Situs tersebut sekaligus mengafirmasi bahwa sebelum penduduk Lembâna membuka lahan baru di sana, telah ada ekosistem sosial yang telah terjadi, yang mungkin dalam taraf kecil. Kuburan, sumur, dan langgar merupakan penanda material yang menunjukkan hal itu.
Di samping itu, nilai keruangan Lembâna tidak hanya berlangsung dalam produksi cerita oleh subjek warga dengan cara mengkeramatkan situs tersebut, tetapi juga mitos yang terdapat di situs itu turut menjaga lingkungan dan lahan milik warga. Ini merupakan kualitas relasi primordial yang menampatkan sistem kepercayaan lokal sebagai cara pandang atas dunia. Demikianlah legenda dan mitos menjaga Lembâna. Nilai keruangan juga berdasar pada kemegahan cerita-cerita di baliknya.
Sementara yang ditunjuk dari sirkulasi produksi hasil panen ialah distribusi ke dua ranah: publik dan privat. Yang pertama beroperasi di pasar yang menempatkan interaksi sosial dan transaksi ekonomi sebagai penandanya, sementara yang kedua ialah konsumsi pangan di lingkungan domestik baik bersumber dari kebun dan hasil panen sendiri maupun dari pasar.
Dalam konteks yang lebih luas, proyek Lembâna boleh jadi tidak hanya menunjuk tempat atau lokasi spesifik, melainkan sebagai metafora dari semesta hubungan antara ekosistem agrikultur dengan nilai material dan nilai kultural, sebagaimana yang telah ditunjuk di atas. Oleh karena itu kami memakai judul Babad Lembâna untuk menunjukkan relasi untuk "membuka lahan baru" sebagaimana makna dari kata babad. Membuka lahan baru artinya bukan "merebut" melainkan membuka halaman kisah dan sejarah mengenai Lembâna, suatu kondisi geologis berupa dataran rendah.
Seniman & Narasumber
Alfiatul Khairiyah Anak-Anak Perigi Anwari Arung Wardhana Elhafifie Dimas Dwi Wardhana Eros Van Yasa Hidayat Rahardja Horri Kiswanto Jufriyanto Kiai Sumardi Maniro AF Mat Toyu Rifal Taufani Royyan Julian Sa'adatil Ubudiah Shohifur Ridho'i Taufiqurrahman Tohjaya Tono Uswatun Hasanah Zainal A. Hanafi
Dukungan dan Kolaborasi oleh Komunitas/Kolektif/Platform
Ababat Platform Arsip Prosa Madura Arsip Puisi Penyair Madura Balai Gadu Barat Dapurkultur Majelis Pecinta Rasul Masjid Lama Lembana Padepokan Seni Madura Panggung Perempuan Perigi Putra Pesantren Perempuan Rumah Seni Lalonget Remo Teater Madura Rokateater Sangkolan PMII Ganding Sinemadura Sivitas Kotheka Studio Dewe Tanglok Art Forum Teater Akura Teater Saksi Annuqayah
Babad Lembâna diinisiasi oleh Lembâna Artgroecosystem (Kampung Perigi, Desa Gadu Barat, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur)
Foto oleh Ayos Purwoaji, Fikril Akbar, Nila Amalia, Shohifur Ridho'i