Karya Nete(u)p mengarsir performativitas Jaipong sebagai kesenian rakyat Jawa Barat yang tumbuh di lingkungan akar rumput. Di awal kemunculannya, kesenian ini boleh dibilang tidak memiliki pakem tunggal baik secara struktur koreografi dan gerak, maupun peristiwa pemanggungannya. Oleh karena itu, Nete(u)p mengadopsi paradigma ketidaktunggalan tersebut dengan cara mengolah struktur dan elemen koreografi yang sudah ada sebelumnya menjadi struktur dan bentuk baru, sehingga bisa dibilang bahwa Nete(u)p ialah Jaipong dalam bentuk lain atau Jaipong yang telah dieksperimentasi sedemikian rupa.
Arsiran Nete(u)p dalam Jaipong berfokus pada tatapan oleh penonton (penyawer/laki-laki) kepada penari (perempuan) yang seringkali dianggap sensual dan menjadi pusat perhatian/tatapan. Tatapan di sini dilihat secara politis sebab ia menunjukkan hubungan kuasa. Pada titik itulah hubungan antara penyawer dengan penari hendak diintervensi oleh Nete(u)p dengan cara mengubah subjek penari perempuan dengan laki-laki, sementara gerakan diapropriasi dari tari Jaipong yang biasa dilakukan oleh penari perempuan. Perubahan subjek ini berarti pula mengubah pusat tatapan ke arah penari laki-laki. Dengan demikian, Nete(u)p hendak menguji pertanyaan “apakah makna sensualitas berubah seiring perubahan subjek?”