Pertunjukan ini tidak hanya menyoroti peristiwa sejarah politik, tetapi juga menghubungkannya dengan budaya populer serta proses pewarisan rasa takut antargenerasi. Berangkat dari pengalaman generasi yang lahir di sekitar pergantian milenium, Curriculum Vitae, 2000 mengangkat pertanyaan mendasar tentang bagaimana seseorang dibentuk oleh peristiwa-peristiwa yang bahkan terjadi sebelum kelahirannya?

Barangkali pertunjukan ini memang ditujukan untuk melihat sisi paling privat dari peristiwa besar yang terjadi pada waktu itu. Sehingga simbol-simbol ringan seperti peralatan rumah tangga menjadi medium artistik untuk menunjukan bahwa cerita-cerita teror itu terekam dalam setiap sudut paling personal orang-orang di sana. Anak-anak yang bercerita, menunjukan kepolosan narasi sejarah yang mereka terima melalui bangku sekolah yang tidak benar-benar mampu menjawab siapa ninja sesungguhnya. Dari sisi gelap sejarah itulah, pertunjukan ini disusun.

Dalam pendekatan ini, Curriculum Vitae 2000 tidak hanya menantang otoritas kekuasaan, tapi juga menggugat bahasa representasi itu sendiri. Bahasa yang terlalu muluk, yang sok tahu, justru kerap menjadi penghalang solidaritas. Maka, ejekan bukan sekadar bentuk kritik, tapi strategi untuk membuka ruang negosiasi baru yang lebih jujur, lebih dekat dengan denyut pengalaman rakyat.

Melalui pertunjukan Curriculum Vitae 2000 ini, penonton juga diajak untuk menyadari bahwa disiplin tidak hanya berarti kepatuhan, tapi juga tentang internalisasi ketakutan. Adegan baris-berbaris menampilkan disiplin militer yang menyusup ke dalam rutinitas rumah tangga, membekaskan pola pikir di ruang yang semestinya steril.

Teater ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk pertunjukan artistik, tetapi juga sebagai ruang spiritual, di mana penonton diajak untuk merenung, bertanya, dan membuka hati terhadap pengalaman hidup yang penuh dengan paradoks antara iman dan keraguan, doa dan dosa. Dengan penampilan yang kuat dan tema yang mengundang pertanyaan, “Lectio Divina” menawarkan pengalaman teater yang lebih dari sekadar hiburan, melainkan sebagai ajakan untuk merenung lebih dalam mengenai kehidupan, dosa, dan pengampunan dalam kerangka teologi dan pengalaman manusia sehari-hari.

Tarian Jamet Kuproy merupakan fenomena kontemporer anak muda Madura. Kemudahan akses teknologi informasi dalam genggaman tangan mengakibatkan arus pertukaran informasi begitu cepat melalui media sosial. Julukan Kuproy telah melekat kepada para pegiat koreografi ini. Namun julukan itu sungguh sangat dilematis. Kuproy merujuk stereotyping citra kuli atau pekerja kasar yang merujuk pada pengkategorian kelas sosial sebagai warga kelas dua.

Vergadering Sarekat Islam juga menawarkan pengalaman imersif yang memperluas perspektif penonton yang terlibat sebagai anggota kongres pasif. Penonton bisa berada di masa kini dan berupaya membayangkan bagaimana adu gagasan dan argumen yang (mungkin) terjadi di era pergerakan nasional. Namun sesekali, penonton terseret ke masa lalu dan menjadi rakyat tertindas yang menggantungkan harapan pada Soerjopranoto, Tjokroaminoto, Semaoen, Haji Misbach, Darsono, Sosrokardono, maupun Agus Salim. 

Sebagaimana cara kerja sejarah dalam institusi tekstual, terdapat linieritas temporal dimana sejarah sebatas diletakan pada peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Sejarah telah menempatkan kolonialisme dan para pemikir intelektual kita, sebatas peristiwa usang yang tak perlu digugat. Hal ini kemudian membawa sejarah justru menjebak dirinya pada linieritas waktu yang mengekang “masa lalu”. Jika kolonialisme gagal dianggap sebagai siklus, maka konsekuensi logisnya akan banyak masyarakat terjajah yang mengalami pembungkaman total terhadap suara mereka sendiri.

Pertunjukan ‘Otobiografi’ dari rokateater, Yogyakarta, menunjukkan skema kerja yang mendialogkan riset dengan retrospeksi diri. Kesenian Kethek Ogleng ditafsir sebagai teks migrasi dari ranah semantik elit ke lanskap seni rakyat. Sutradara Shohifur Rido’i menawarkan tafsir asimetris terhadap konten naratif dari teks sumbernya (Ramayana dan Kisah Panji) dan depersonifikasi atas tokoh Anoman, yang secara ikonik merupakan identifikasi utama bagi seni Kethek Ogleng itu.

Pertanyaan yang menghantui saya berhadapan dengan ide pertunjukan ini antara lain: seberapa signifikankah resistensi terhadap kontrol negara itu? Apakah tujuan dan proyeksi dari resistensi itu? Apakah dengan adanya resistensi, kita kemudian dapat hidup atau setidaknya dapat membayangkan sebuah kehidupan dalam vakum negara (bentuk hiperbola dari kehidupan tanpa penataan dari negara)?

Sutradara Passport, Passphoto Shohifur Ridho’i mengatakan, dalam pementasan berdurasi empat jam ini, Rokateater mencoba menghadirkan realitas yang ada di dalam kehidupan sehari-hari. Pementasan ditampilkan secara natural sebagaimana suasana di kehidupan sehari-hari. Ketika azan Maghrib berkumandang, juru foto yang beragama Islam digantikan oleh rekannya yang non-Muslim. Dalam pementasan juga tidak ada batas antara pemain dan penonton. Pengunjung tidak ditempatkan sebagai penonton, tetapi sebagai warga atau publik yang dilibatkan dalam cerita. Pemain bertindak sebagai pegawai studi foto, sedangkan penonton sebagai pengguna jasa studio. Batasan antara akting dan bukan akting menjadi buram.

Pertunjukan ini ingin menunjukan bagaimana kegaduhan yang muncul belakangan ini, terutama yang berkaitan dengan identitas agama yang cukup mencuri perhatian anak muda urban. Walaupun dengan respon yang berbeda-beda, ada yang cenderung aktif sehingga mengikuti logika massa yang ada, tetapi ada juga yang berprilaku bodo amat terkait kondisi yang sedang terjadi.

Ketika Indonesia sangat berisik dengan fakta-fakta seputar isu identitas, radikalisme, dan keagamaan, pentas taeter berjudul Insiden Mencuci Bau Kencur muncul dengan kesejukan. Pentas tersebut menggali narasi lain tentang kehidupan dan kegaduhan kontemporer manusia saat ini. Terutama mengenai ibadah, agama, penghambaan pada seseorang/isme tertentu, hingga pola komunikasi.

Pada mulanya, pandangan saya terhadap pertunjukan ini sederhana saja, karena cara penyajiannya yang begitu ringan bahkan dapat dikatakan mengundang banyak gelak tawa, tinggal para penonton mampu atau tidak menangkap makna dari serangkaian adegan yang tersaji dengan bentuk-bentuk nonrealis. Nyatanya tidak, pertunjukan ini mengalami proses panjang dan cukup menguras pikiran tentang bagaimana kegelisahan para seniman ini dan maksud dari serangkaian adegan dapat sampai kepada penonton tanpa menyinggung ideologi kelompok tertentu.

Pertunjukan rokateater “Masegit” yang disutradarai Shohifur Ridho’i menjalankan dramaturgi dan kurasi yang ketat terhadap hampir seluruh kerja artistik yang berlangsung di panggung. Adegan ’’Perjamuan Terakhir’’ Yesus telah berganti dengan perjamuan terakhir seorang kiai dengan santri-santrinya. Tetapi, yang mereka santap dalam perjamuan itu tulangbelulang dan tengkorak sapi. Adegan tersebut, yang dibekukan sebagai artefak fotografis di panggung, menjadi pembuka dan penutup pertunjukan.

Sepanjang enam puluh menit, penonton disuguhi ‘arsip’ masyarakat Madura dan relasi kekuasaan. Perlawanan terhadap kolonial Belanda, kehidupan di pesisir, kasus Syi’ah-Sunni di Sampang, pembunuhan kiai oleh ninja, euforia sepakbola lewat klub Madura United, jembatan Suramadu dan tumbuhnya pariwisata Madura, hingga kegemaran ber-selfie. Sepanjang pertunjukkan dialog-dialog menggunakan dubbing.

Masjid atau masegit merupakan keriuhan di mana segala aktivitas manusia Madura dilaksanakan. Hampir segala persoalan selalu disandarkan pada masjid atau sesuatu yang dekat dengannya, seperti kiai atau ulama. Sebelum dan sesudah laku kebudayaan orang Madura, konsultasinya adalah kiai.