“Interval yang Ganjil” adalah pertunjukan yang menyoal rentang waktu yang bersifat sirkular sekaligus timpang. Waktu sirkular menunjuk pada bagaimana luka dan krisis terus berulang dalam rupa baru: kekerasan politik masa Orde Baru yang menjelma menjadi represi digital; perampasan tanah dan sumber daya yang diwariskan dari kolonialisme hingga neoliberalisme; atau kesenjangan sosial yang semakin diperlebar oleh kapitalisme mutakhir. Pada saat yang sama, waktu timpang muncul dari ketidakselarasan antara beban sejarah dan desakan masa depan yang menuntut percepatan.
Interval adalah metafora bagi kondisi generasi muda di Indonesia pasca-otoritarianisme, sebuah fase “pasca” yang bukan berarti selesai/setelah, melainkan justru menandai kematangan dan reproduksi baru dari logika kekuasaan otoritarian. Dalam lanskap inilah kaum muda ditempatkan pada situasi serba di persimpangan: tidak sepenuhnya bebas menentukan arah, sebab telah terikat oleh residu sejarah sekaligus ditarik oleh desakan masa depan. Kaum muda bukanlah tabula rasa, melainkan subjek yang telah dituliskan inskripsi masa lalu: luka politik yang tak kunjung sembuh, kerusakan ekologi yang semakin akut, kesenjangan sosial yang melebar, serta kekerasan struktural yang menahun.
"Uncanny Interval" is a performance that interrogates a conception of time that is both circular and uneven. Circular time refers to the way wounds and crises endlessly recur in new forms: the political violence of the New Order re-emerging as digital repression; the dispossession of land and resources passed down from colonialism to neoliberalism; or the widening social inequality exacerbated by late capitalism. At the same time, uneven time arises from the dissonance between the burden of unresolved histories and the accelerating demands of the future.
The interval functions as a metaphor for the condition of Indonesia’s young generation in the post-authoritarian era—a “post” that does not signify an end or closure, but rather the maturation and reproduction of authoritarian logics in new guises. Within this landscape, young people are positioned at a perpetual crossroads: never fully free to determine their direction, for they remain bound by the residues of history while simultaneously pulled forward by the pressures of an uncertain future. The youth are not tabula rasa, but subjects already inscribed with the legacies of the past: political wounds that refuse to heal, ecological devastation that grows ever more acute, deepening social inequality, and entrenched structural violence.